Kunci agar Perusahaan Selalu Diberitakan Positif: Jaga Hubungan dengan Jurnalis

Dalam dunia kehumasan, ada satu pilar yang sering kali menjadi penentu apakah sebuah perusahaan dipandang positif atau negatif oleh publik. Pilar itu bernama media relations atau hubungan dengan media massa. Membangun kedekatan dengan wartawan bukan pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan sewaktu waktu. Media relations adalah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan setiap hari, minggu, dan bulan tanpa henti. Perusahaan yang paham akan hal ini biasanya lebih siap menghadapi badai pemberitaan dibanding mereka yang baru ingat wartawan ketika memiliki acara besar.
Yang sering terjadi di lapangan adalah banyak perusahaan baru gencar mendekati media ketika mereka memiliki produk baru. Setelah acara selesai, hubungan dengan wartawan ikut menghilang hingga acara berikutnya tiba. Pola ini sangat berbahaya karena ketika krisis datang, tidak ada satu pun jurnalis yang merasa dekat atau percaya dengan perusahaan tersebut. Padahal, wartawan adalah manusia biasa yang juga butuh hubungan hangat, butuh dihargai, dan butuh merasa bahwa kehadiran mereka juga berarti bagi perusahaan. Konsistensi dalam menyapa, berbagi informasi yang relevan, dan memberikan kemudahan akses akan membangun fondasi kepercayaan yang kokoh.
Media relations yang baik bukan berarti wartawan akan selalu menulis berita positif tentang perusahaan. Tugas wartawan tetaplah menyampaikan kebenaran sesuai fakta di lapangan. Namun yang membedakan adalah ketika ada informasi negatif yang harus diberitakan, perusahaan dengan hubungan baik akan mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan, dilibatkan dalam proses verifikasi, atau setidaknya diberi ruang untuk memberikan tanggapan. Jurnalis yang merasa dihormati cenderung akan lebih berimbang dalam menulis berita. Mereka akan mencari konfirmasi, meminta pendapat, dan tidak serta merta menelan mentah informasi dari pihak lain yang mungkin berniat menjatuhkan perusahaan.
Membangun konsistensi dalam media relations sebenarnya tidak sulit dan tidak perlu menguras anggaran besar. Cukup dengan rutin mengirimkan siaran pers yang relevan bukan sekadar promosi, mengundang wartawan dalam acara internal, atau sekadar menyapa melalui pesan singkat di hari hari tertentu. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan masing masing jurnalis. Ada wartawan yang lebih suka data dan angka, ada yang lebih tertarik pada cerita manusia di balik perusahaan. Public relations (PR) yang cerdas – seperti halnya SEQARA Communications – akan memetakan ini dan membangun pendekatan yang personal. Ketika wartawan merasa dipahami, mereka akan lebih terbuka dan antusias setiap kali perusahaan memiliki kabar baru.
Reputasi perusahaan di mata publik sangat dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan itu digambarkan di media massa. Dan bagaimana media menggambarkan perusahaan sangat ditentukan oleh seberapa baik public relations menjalin hubungan dengan mereka. Media relations yang konsisten akan menciptakan rantai komunikasi yang saling menguntungkan. Perusahaan mendapatkan saluran untuk menyampaikan pesan, wartawan mendapatkan sumber berita yang kredibel dan responsif. Memiliki sahabat di dunia jurnalistik adalah aset yang tak ternilai harganya.
Penulis: Aryo Meidianto
