Lebih Berhati-hati Ketika Memberi Hadiah, Begini Arti Yang Terkandung di Balik Setiap Pemberian

Budaya memberikan hadiah atau gift kepada kerabat, rekan kerja atau tetangga merupakan budaya baik yang dimaksudkan untuk saling berbagi dan memberikan apresiasi secara simbolik. Namun jenis pemberian yang kita sampaikan seringkali dianggap memiliki arti dan maksud tertentu yang tanpa disadari memberi pesan baik atau justru kesan buruk.
Beberapa contoh populer di masyarakat kita di antaranya adalah ketika memberikan hadiah berupa makanan yang dianggap sebagai simbol dari rasa berbagi, atau selebrasi, pada ujungnya bisa dinilai positif maupun negatif. Semisal membawakan champagne ke sebuah acara keluarga. Di budaya Barat ini dianggap sebuah hal positif, namun tidak demikian untuk mereka yang tinggal di beberapa negara yang menganut agama Islam.
Begitu pula ketika kita memberikan hadiah bunga atau flower bouquet. Ketika bunganya mawar, maka hampir sebagian besar komunitas kita menilainya sebagai hal positif. Beda halnya ketika kita memberikan bunga Chrysant ke orang Eropa maka akan dianggap negatif, karena melambangkan pemakaman.
Contoh Pemberian dan Arti yang Terkandung di Dalamnya
- Sapu Tangan: Dalam beberapa budaya, sapu tangan dikaitkan dengan kesedihan dan air mata, atau sebuah perpisahan, memberikannya mungkin melambangkan harapan agar seseorang berduka.
- Pisau atau Benda Tajam: Dalam banyak budaya (misalnya, beberapa negara Asia dan Eropa), benda-benda ini dianggap dapat memutuskan hubungan.
- Payung: Dalam beberapa budaya, memberikan payung melambangkan bahwa Anda akan berpisah jalan dengan orang tersebut.
- Jam: Dalam beberapa budaya Asia (khususnya Tiongkok), memberikan jam (terutama jam dinding besar) dianggap sebagai nasib buruk karena frasa untuk “memberikan jam” terdengar mirip dengan frasa untuk menghadiri pemakaman.
- Cermin: Dalam beberapa budaya, cermin dianggap menarik roh jahat atau dapat dilihat sebagai simbol kesombongan.
- Barang-barang Berwarna Hitam atau Putih: Dalam banyak budaya Asia, hitam dan putih adalah warna yang dikaitkan dengan duka dan pemakaman, jadi hadiah dengan warna-warna ini sebaiknya dihindari.
- Barang-barang dengan Logo Perusahaan: Meskipun terkadang dapat diterima dalam lingkungan bisnis, barang-barang dengan merek yang berlebihan dapat dilihat sebagai promosi daripada hadiah yang tulus dalam konteks pribadi.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memberikan Hadiah
Karena tidak semua hadiah memberikan arti yang sama di tempat yang berbeda, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebelum memberikan hadiah kepada rekanan.
- Budaya Setempat Upayakan untuk mempelajari budaya setempat terkait jenis-jenis pemberian yang umum dan hindari apa yang menjadi tabu.
- Hubungan Kedekatan Kedekatan hubungan Anda dengan penerima akan mempengaruhi kesesuaian dan pandangan orang tersebut terhadap hadiah yang kita berikan.
- Sesuaikan dengan Acara Karena acara akan menjadi alasan utama dalam pemilihan hadiah yang kana diberikan.
- Tampilan atau presentasi Terkadang, apapun isinya, cara kita membungkus atau mengemas hadiah menjadi satu hal penting. Atau sebaliknya, memberikan efek kejut ketika justru terlihat humble namun isinya mewah.
Hadiah atau Pemberian dalam Bentuk Bagian Tubuh Hewan
Hadiah dalam bentuk bagian tubuh hewan – meski unik atau lucu – haruslah dihindari. Karena hampir di semua budaya di dunia, memberikan bagian dari tubuh hewan dianggap kurang positif, bernada ancaman, bahkan terkadang merupakan hal yang sangat tabu untuk dilakukan atau berkesan supranatural.
Terkait hadiah berupa kepala binatang babi seperti yang terjadi ke media Tempo, atau bangkai tikus yang ramai dibahas beberapa hari terakhir, rupanya memunculkan sejumlah isu yang kurang positif.
Dengan tetap menghormati penyelesaian kasus yang tengah bergulir, kami menemukan sejumlah keanehan yang berkembang di media masa. Mulai dari kemampuan public speaking salah satu pejabat yang disoroti karena dirasa kurang tepat dalam memberikan komentar mengenai kejadian ini, hingga menjadi perdebatan mengenai penyelesaian dan maksud dari kasus ini.
Karena apapun maksudnya, pemberian itu sudah bukan lagi hadiah, untuk kemudian dikonsumsi oleh si penerima hadiah. Kepala hewan sering dikaitkan dengan kematian, pengorbanan, atau praktik ritual. Memberikan hadiah semacam itu sebagai hadiah dapat mengganggu atau disalahpahami sebagai memiliki niat jahat.
Bagi banyak orang, menerima kiriman kepala hewan yang terpenggal akan dianggap mengerikan, tidak menyenangkan, dan sangat menyinggung. Bahkan dalam beberapa budaya, bagian tubuh hewan tertentu mungkin dikaitkan dengan nasib buruk atau pertanda negatif.
Dalam hal ini, dikhawatirkan apa yang terjadi di Indonesia ini merupakan kemunduran dalam berdemokrasi, khususnya di sisi kebebasan pers yang mulai diganggu. Hal ini seperti mengingatkan kita pada beberapa masa sebelum reformasi dimana kebebasan berpikir masih dalam kondisi bersyarat. Yakni tidak boleh bertentangan dengan salah satu golongan.
Hal ini sekaligus memunculkan anggapan bahwa kepala binatang yang dikirimkan ke salah satu media tersebut “bukan hadiah biasa”. Apapun itu, kesan yang muncul adalah “bentuk ancaman” ke media tersebut. Terkait kasus tersebut, kita ita berharap negara memberikan jaminan terhadap penyelesaian kasus dan menenangkan warga yang tengah resah seperti ini, salah satunya dengan pendekatan public relations yang lebih baik dan strategis.Kami telah membahas hal ini di tulisan sebelumnya (https://seqara.id/public-relations-sebagai-kekuatan-strategis-dalam-advokasi-dan-edukasi-kebijakan-publik/).
Penulis: Amad San