Dari Micro ke Macro, Kesalahan Komunikasi yang Rugikan Brand

Insiden yang terjadi antara tim internal Eiger Indonesia dan seorang mitra Key Opinion Leader (KOL) beberapa waktu silam mengajarkan kita semua pelajaran penting tentang komunikasi dan respek dalam dunia kemitraan. Percakapan yang beredar menunjukkan adanya pola komunikasi yang tidak profesional, di mana tim Eiger terlihat merendahkan kapasitas KOL berdasarkan jumlah followers yang masih tergolong mikro. Kejadian seperti ini menjadi salah satu pondasi yang rapuh untuk membangun hubungan bisnis yang saling menguntungkan kedepannya.
Komunikasi yang efektif dalam sebuah kemitraan harus dibangun di atas dasar saling menghormati, terlepas dari besarnya pengaruh atau ukuran audiens. Penyebutan “masih micro” dan perbandingan dengan influencer “top” menciptakan dinamika yang tidak setara dan merusak rasa saling percaya. Dalam public relations, setiap mitra, besar atau kecil, adalah perwakilan dari nilai brand untuk diperlakukan dengan integritas yang sama.
Krisis ini diperparah oleh pola komunikasi yang terlihat di percakapan lain, termasuk ketidakjelasan dalam koordinasi pengiriman kembali barang yang sudah diberikan. Ketidakcakapan dalam berkomunikasi operasional sehari-hari ini menunjukkan potret yang lebih luas, yaitu perlunya penyelarasan dan pelatihan komunikasi yang menyeluruh di semua level tim, tidak hanya pada level manajemen.
Pernyataan maaf resmi dari Eiger yang disertai tindakan tegas terhadap pihak yang terlibat adalah langkah responsif yang tepat. Langkah ini menunjukkan akuntabilitas dan komitmen untuk memperbaiki kesalahan. Namun, pernyataan maaf adalah titik awal, bukan akhir. Nilai sebenarnya dari komitmen tersebut akan terlihat dari bagaimana perusahaan membangun kembali kepercayaan dan memperbaiki kembali pola komunikasi serta protokol kerja sama dengan semua mitranya ke depan.
Kejadian ini dapat menjadi pengingat bagi semua brand bahwa di era digital saat ini, reputasi dapat dibangun dari setiap interaksi, besar maupun kecil. Cara berkomunikasi mencerminkan nilai dan budaya perusahaan yang sesungguhnya. Membangun ekosistem kemitraan yang sehat dan berkelanjutan dapat dimulai dari memberikan rasa hormat yang tulus, komunikasi yang jelas, dan profesionalisme yang konsisten kepada setiap individu yang bekerja sama dengan brand.

Penulis: Aryo Meidianto