Jenfi Start Up Pendanaan Alternatif Hadir di Indonesia Berkontribusi Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Digital
- Startup yang telah meraih pendanaan Seri-A ini meluncur di Indonesia untuk memberikan modal bagi perusahaan yang ingin mempercepat pertumbuhan
- Opsi pembiayaan tradisional seringkali tidak dapat mengukur risiko secara akurat untuk bisnis digital yang bergerak cepat, berpenghasilan tinggi, dan berbiaya tinggi.

Jakarta, 6 Juni 2022 – Jenfi, startup fintech asal Singapura, melebarkan sayap bisnisnya ke Indonesia. Ekspansi ini mengikuti pendanaan seri A yang diterima pada tahun 2021, mencakup ekspansi ke Vietnam. Jenfi memberikan solusi pendanaan alternatif untuk bisnis yang hanya dapat digunakan untuk aktivitas pertumbuhan, namun tidak terbatas pada periklanan digital.
Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh secara signifikan selama dua tahun masa pandemi. Data ini juga menunjukkan bahwa pada tahun 2021, ekonomi digital diproyeksikan tumbuh dari Rp1.005 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp4.531 triliun pada tahun 2030. Salah satu faktor pendorongnya adalah perkembangan e-Commerce, baik dari sisi jumlah pengguna, penjual, konsumen serta jumlah transaksi. Hal ini memberikan peluang ideal bagi Jenfi untuk turun tangan dan membantu menyediakan dana yang sangat dibutuhkan para pelaku usaha kecil dan mikro untuk mendorong pertumbuhan mereka.
“Indonesia adalah pasar yang sangat menarik bagi Jenfi, mengingat populasinya yang besar dan segmen e-commerce yang berkembang dan belum mendekati puncaknya. Sementara kami melihat pertumbuhan yang cepat, kami juga menyadari bahwa sebagian besar solusi pinjaman atau pendanaan tradisional seringkali tidak tersedia untuk UMKM di daerah, sehingga dapat menghambat pertumbuhan mereka di pasar. Untuk itulah kami hadir di Indonesia, yaitu dengan menyediakan akses cepat pada modal pertumbuhan untuk memacu perkembangan ekonomi digital di daerah,” pungkas Jeffrey Liu, Co-Founder dan CEO Jenfi.
Berdasarkan Statistik E-commerce Indonesia tahun 2021, 24,4% bisnis e-commerce mengalami peningkatan pendapatan dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi konsumen, belanja online telah menjadi kebiasaan baru dan menunjukkan peningkatan sebesar 25,5% setelah pandemi dibandingkan dengan 17,5% sebelum pandemi. Jumlah ini diperkuat dengan jumlah konsumen digital baru sebanyak 21 juta selama tahun 2020 dan paruh pertama tahun 2021.
Bagaimana solusi dari Jenfi bekerja
Layanan pembiayaan Jenfi secara khusus terbatas pada layanan pertumbuhan seperti Facebook, Instagram, LinkedIn atau layanan periklanan Google. Hal ini guna memastikan bahwa pendanaan hanya digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan dipantau dengan mengintegrasikan akun pendapatan bisnis pada layanan seperti Shopify, Stripe, Braintree, Lazada, Shopee, dan Tokopedia. Pantauan ini juga menghasilkan pengukuran bahwa keuntungan Jenfi hanya dihitung dari pendapatan yang dihasilkan dari modal pertumbuhan yang diberikan.
Sebelum memberikan pendanaan, Jenfi juga memberikan penilaian risiko otomatis yang mungkin terjadi dalam ekonomi digital. Penilaian ini bertujuan membantu mengurangi risiko bagi perusahaan serta menilai stabilitas keuangan bisnis secara akurat dibandingkan dengan sebagian besar layanan penilaian tradisional lainnya. Jenfi telah membantu ratusan perusahaan digital di Asia Tenggara, termasuk layanan bisnis B2B, B2C, dan SaaS.
“Kami melihat permintaan yang semakin kuat akan solusi kami di Indonesia dan ingin mengikuti kesuksesan kami di Singapura. Oleh karena itu, kami berharap untuk melihat pertumbuhan yang kuat juga di sini. Dengan puluhan ribu perusahaan yang berkembang pesat di Indonesia, kebutuhan akan solusi seperti Jenfi sudah jelas dan kami berharap dapat membangun dan memperkuat ekonomi digital di Indonesia bersama para pelanggan kami,” tutup Jeffrey.
*****
Tentang Jenfi
Jenfi adalah perusahaan teknologi keuangan yang menyediakan pembiayaan dan analitik berbasis pendapatan untuk bisnis digital native di Asia. Didirikan oleh Jeffrey Liu dan Justin Louie, Jenfi adalah perusahaan pembiayaan berbasis pendapatan alternatif untuk bisnis dan startup digital-native di Asia Tenggara. Beroperasi sebagai Growth Capital as a Service (GCaaS), kelas aset menawarkan modal non-dilutif hingga US$500.000 yang dapat digunakan untuk meningkatkan skala bisnis melalui pemasaran, inventaris, dan kampanye pertumbuhan. Mesin penilaian risiko milik Jenfi mampu menentukan kelayakan kredit suatu bisnis dan membandingkan seberapa efisien bisnis tersebut jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk pertumbuhan. Berdasarkan penilaian tersebut, Jenfi memberikan opsi pembiayaan yang lebih fleksibel dan non-dilutif untuk bisnis. Hingga saat ini, Jenfi telah mendukung ratusan perusahaan digital-native termasuk bisnis B2B dan SaaS seperti Tier One Entertainment, Pay With Split, dan Homebase. Jenfi berharap dapat menyalurkan modal non-dilutif sebesar US$ 20 juta hingga Juli 2022. Sebelum mendirikan Jenfi, Jeffrey dan Justin berhasil membangun perusahaan kebugaran berlangganan GuavaPass. Temukan informasi lebih lanjut di www.jenfi.id
