Memandu Diskusi Berbobot Menyoal Sustainability di Wallacea

Sustainability Cinema Dialogue, sebuah diskusi yang mengupas “Program Kemitraan Wallacea: Kolaborasi Masyarakat, Konservasi, dan Pembangunan Berkelanjutan” dihelat bersama dengan para pakar sustainability. Diskusi bertema “Sustaining Nature, Honoring Tradition: Ecology and Local Wisdom” ini merupakan rangkaian dari acara Indonesia Sustainability Award (ISA) 2026 yang berlangsung di Menara Peninsula Hotel Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026. Diskusi diawali nonton bareng Film Dokumenter JEJAK WALLACEA yang diproduksi oleh Burung Indonesia, yang mendokumentasikan hasil Program Kemitraan Wallacea II di Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Niken Widi Hapsari, Director SEQARA Communications dan praktisi PR di APPRI, dipercaya untuk memandu sesi Sustainability Cinema Dialogue yang mengangkat bahasan berbobot tersebut. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber yakni SAM August Himmawan, Produser dan Director film dokumenter “JEJAK WALLACEA”; Vincentia I. Widyasari, Knowledge and Program Development Manager, Burung Indonesia; Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si., IPU, Analis Kebijakan Ahli Utama, Kementerian Lingkungan Hidup; Prof. Dr. Juniati Gunawan, M.Si., Ph.D., Guru Besar Universitas Trisakti dan Kepala Trisakti Sustainability Center; dan Agung Indri Pramantyo, Direktur Teknik dan Operasi Pertamina Gas.
Diskusi berlangsung seru dan berisi paparan dari narasumber sesuai dengan disiplin keilmuan mereka, setelah pemutaran film dokumenter JEJAK WALLACEA selesai. Film yang diproduksi oleh Burung Indonesia dengan dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) ini menjadi bagian dari laporan Program Kemitraan Wallacea II. Sesuai namanya, JEJAK WALLACEA mengangkat cerita mengenai upaya masyarakat pesisir di Wallacea menyelamatkan ekosistem pesisir dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan dengan bom dan racun serta perburuan penyu yang dilindungi.

Wallacea adalah kawasan biogeografis di Indonesia bagian tengah yang meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Nama Wallacea sendiri diambil dari seorang naturalis Alfred Russel Wallace yang telah mendeskripsikan batas-batas biologis kawasan zoogeografis yang dikenal sebagai Garis Wallacea. Wilayah Wallacea dari dulu menjadi laboratorium alam unik tempat bertemunya flora dan fauna peralihan Asia-Australia, serta rumah bagi banyak spesies endemik seperti Komodo, Anoa, Tarsius, dan Babirusa, serta 697 spesies burung yang ada di kawasan ini (249 di antaranya endemik dengan beragam status kelangkaan – menurut data Burung Indonesia).
Dari film dokumenter tersebut tergambar bahwa masyarakat pesisir tidak mengenal teori keberlanjutan yang rumit dan istilah yang ribet. Menurut SAM August Himmawan yang juga Executive Director Purupiru Creative & Sustainability Communication, masyarakat setempat justru menerapkan hukum adat dan kearifan lokal untuk mencegah kerusakan alam, salah satunya menjaga kelangsungan hidup fauna di laut yang memberikan sumber penghidupan. Ironisnya, hukum adat semakin terjepit dengan adanya praktik perusakan lingkungan seperti destructive fishing, illegal logging serta pembukaan daerah tambang baru.
Film dokumenter ini sebenarnya merupakan laporan program konservasi Burung Indonesia yang dikemas secara kreatif dalam bentuk film supaya menjangkau stakeholder yang lebih luas, terutama publik. Sebagai pakar sustainability accounting & reporting, Prof. Juni memberikan insight bahwa Sustainability Report tidak perlu melalui kata-kata yang panjang dan beratus-ratus lembar, justru yang lebih penting adalah data angka. Yang perlu diperhatikan lagi adalah sustainability berdampak bagi bangsa dan memberikan bekal warisan buat generasi yang akan datang. Laporan dalam wujud visual seperti film JEJAK WALLACEA tersebut menurut sang profesor juga sangat dimungkinkan sesuai dengan industrinya dan sepanjang memberikan data yang valid serta bisa dipertanggungjawabkan ke stakeholders dan publik.
Para narasumber di Sustainability Cinema Dialogue sepakat untuk mendorong agar masyarakat luas dan pemerintah terlibat aktif dalam konservasi keragaman hayati. Selain itu melalui kolaborasi dari para stakeholder, baik dari pemerintah, dunia usaha (Badan Usaha Milik Negara / BUMN dan swasta), NGO, akademisi, dan masyarakat lokal, akan melahirkan model konservasi berbasis kearifan lokal bisa benar-benar berdampak dan berkelanjutan.

Sebagai kesimpulan Sustainability Cinema Dialogue, Niken merangkum bahwa film dokumenter JEJAK WALLACEA memberi pengingat mengenai keberlanjutan bukan hanya soal kebijakan di atas kertas atau target di laporan tahunan — tapi soal manusia, soal masyarakat pesisir yang setiap hari memilih untuk menjaga, bukan merusak. “Kita patut bersyukur ketika bisa berbisnis dan berusaha di Indonesia, negara yang luar biasa kaya sumber daya alamnya, namun kita harus tetap bertanggung jawab untuk menciptakan dampak yang positif bukan hanya dari segi profit tapi juga dari people dan planet-nya. Untuk itulah, kita perlu harmonisasi, gerakan, dukungan, dan gugahan dari masyarakat seluruhnya untuk mencapai One Nation, One Commitment,” tutupnya.
Indonesia Sustainability Award (ISA) 2026
Ajang penghargaan bergengsi Indonesia Sustainability Award (ISA) 2026 merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh First Indonesia Magazine bersama PT Indonesia Popular Mandiri sebagai bentuk apresiasi terhadap perusahaan dan institusi yang telah menerapkan prinsip keberlanjutan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Tahun ini, tema yang diusung adalah “One Nation, One Commitment: Advancing ESG Excellence Across Industries”. Tema ini mencerminkan komitmen untuk memperkuat praktik ESG di berbagai sektor industri di Indonesia.

Sejumlah perusahaan dari berbagai sektor dan skala telah berpartisipasi dalam proses penjurian, mulai dari BUMN, perusahaan swasta nasional, hingga perusahaan multinasional. Kehadiran beragam entitas lintas sektoral ini mencerminkan tingginya komitmen bersama dalam mengimplementasikan prinsip ESG.
Penilaian dalam ISA 2026 mencakup berbagai aspek penting, antara lain lingkungan (environmental), sosial (social), tata kelola (governance), inovasi keberlanjutan, transparansi laporan, hingga peran pimpinan perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR). Kategori penghargaannya mulai dari National Grand Awards, Sectoral ESG Awards, hingga Special Recognition Awards seperti Climate Action Leadership Award dan Sustainable Innovation Award.
Menurut Ketua Dewan Juri ISA 2026, Ummu Azizah Mukarnawati yang juga sebagai Co-Founder & Programme Director PT Gagas Inspirasi Nusantara, penghargaan bukan sekadar seremonial semata bagi para kandidat namun menjadi upaya bersama untuk meningkatkan standar keberlanjutan. Peran ISA 2026 menjadi katalis dalam percepatan transformasi ESG di Indonesia sehingga memiliki daya saing di tingkat global.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara ISA 2026, Maya Julianti, mengatakan bahwa penyelenggaraan ISA tahun ini dirancang bukan sebatas ajang penghargaan, akan tetapi juga menjadi forum kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk memperkuat implementasi ESG di Indonesia.
Penerima penghargaan ISA 2026 meliputi:
5 Best Companies in ESG Implementation:
- The Most Inclusive Business 2026: PT Kereta Api Indonesia (Persero)
- ESG Transformation Champion 2026: PT Kalbe Farma Tbk. (Kalbe)
- ESG Leadership of the Year 2026: PT Astra International Tbk.
- Indonesia ESG Excellence Award 2026: PT Multi Bintang Indonesia Tbk.
- ESG leadership of the Year 2026 : PT Pertamina Gas
Best ESG Sectoral:
- Best ESG in Energy & Resources : PT Nusa Karya Arindo
- Best ESG in Infrastructure & Property Sector : PT Kalla Inti Karsa
- Best ESG in Infrastructure & Property: PT Wijaya Karya (Persero)
- Best ESG in Manufacturing: PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap
- Best ESG in Financial Services: PT Permodalan Nasional Madani
- Best ESG in Technology: PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (emtek)
- Best ESG in Infrastructure & Property: Kawasan Ekonomi Khusus Industropolis Batang
- Best ESG in Technology: PT Pelindo Sinergi Lokaseva
- Best ESG in Consumers Cyclicals: PT Miitra Pinasthika Mustika Tbk.
- Best ESG in Retail: IKEA Indonesia PT Rumah Mebel Nusantara
- Best ESG in Technology: PT Global Tiket Network (tiket.com)
- ESG Excellence – BUMN: PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) – InJourney
- Best ESG in Technology: PT Global Digital Niaga Tbk. (blibli)
- Best ESG in Technology: PT Setiap hari Dipakai (Evermos)
- Best ESG in Infrastructure & Transportation: PT LRT Jakarta
- Best Sustainability Foundation Initiative: Pertamina Foundation
- Best ESG Initiative in MSME: Craftote Gallery and Coffee
Penulis dan Foto: Adit
* Acara diskusi dan penghargaan ISA 2026 dapat ditonton di kanal First Indonesia Magazine TV : https://www.youtube.com/watch?v=V7iXygak0x4&t=9622s
