Studi Kasus “Big Arch” McDonald’s: Viral Bukan Selalu Nilai yang baik

Kita saat ini sedang membahas gagasan “tidak ada publisitas yang buruk,” dipicu oleh video CEO McDonald’s yang mencicipi “produk” barunya burger Big Arch—disusul banjir parodi. Banyak yang berseru, “kalau dibicarakan, berarti menang.” Gagasan ini tampak meyakinkan, tetapi sesungguhnya malas dan keliru bila diterapkan ke semua konteks.
Mengapa Atensi Tidak Sama dengan Kepercayaan
- Provokator hidup dari atensi. Kehebohan dan kemarahan adalah model bisnis mereka. Jika orang membicarakan mereka, tujuan tercapai.
- CEO bukan provokator. Mereka memimpin institusi. Saat kepercayaan adalah bagian dari produk—mulai dari keamanan makanan, tata kelola finansial, privasi data, hingga reputasi merek—kredibilitas bukan pelengkap; itu fondasi.
- Dibicarakan ≠ dipercaya. Viral ≠ nilai. Atensi ≠ ekuitas merek.
Catatan Sejarah Singkat
Frasa “all PR is good PR” sering dilekatkan pada P.T. Barnum. Dan apa pekerjaannya? Ia menjalankan sirkus—bukan institusi serius yang berdiri di atas kepercayaan. Analogi ini penting: kalau patokannya sirkus, jangan diterapkan mentah-mentah pada bisnis yang menuntut kredibilitas.
Siapa yang Biasanya Mengatakan “Semua PR Itu Baik”?
- Agensi PR yang sedang memadamkan kebakaran setelah blunder besar.
- Amatir dan provokator—yang pertama karena tidak paham, yang kedua karena memang bermain di “game” berbeda.
- Orang yang belum pernah membangun perusahaan serius untuk pelanggan serius, apalagi mempertaruhkan nasib organisasi dan pekerjaan pada reputasi publik.
Studi Kasus: Video “Big Arch” McDonald’s
Video viral CEO McDonald’s, Chris Kempczinski, saat mencoba burger “Big Arch,” menuai kritik PR karena terasa canggung dan kurang autentik. Beberapa sorotan utama:
- Kurangnya autentisitas: Gestur kaku dan ekspresi tidak nyaman memunculkan kesan ia tidak sungguh mengonsumsi produk perusahaannya—menggerus kepercayaan pada kualitas makanan.
- Kritik produksi: Penyutradaraan kaku, naskah tidak natural, dan gigitan burger yang kecil memperkuat kesan promosi yang dipaksakan.
- Perbandingan dengan kompetitor: Burger King lebih sering berhasil menampilkan pemimpin yang “turun ke dapur,” terasa membumi dan relatable—kontras dengan citra korporat yang dingin di video ini.
- Efek “Bad PR is Good PR”: Ya, perhatian tercipta. Namun ini contoh “attention wins, trust fails”—atensi meningkat, kredibilitas melemah, loyalitas tidak bertumbuh.
Intinya menurut SEQARA Communications, kritik utama tertuju pada tim media yang menempatkan pemimpin perusahaan dalam situasi yang tidak sesuai dengan persona konsumen (terlalu kaku/eksekutif), membuat kampanye produk baru (Big Arch) tersebut kehilangan dampaknya.
Video dari CEO McDonald’s yang beredar 3 Maret lalu di Instagram sebenarnya dimaksudkan sebagai showcase eksekutif standar. Tak ada yang menduga warga internet responsif dan agresif—menemukan kelucuan dalam cara Kempczinski memperlakukan burger itu. Penyampaiannya yang hati‑hati, nyaris klinis—menggambarkan sandwich dengan bahasa korporat yang begitu terukur hingga penonton membedah setiap katanya—serta gigitan pertama yang sangat kecil menjadi bahan olok‑olok, parodi, dan akhirnya memicu perang meme fast food dari brand-brand lain.
Dalam hitungan hari, Burger King, Wendy’s, A&W Canada, dan Jack in the Box merilis video balasan masing‑masing, menampilkan para eksekutif mereka mengambil gigitan yang jelas lebih bersemangat dari burger andalan masing‑masing. Tren itu menyebar di TikTok, Instagram, dan X, meraih jutaan tayangan dan menempatkan tiap merek di pusat momen budaya ber-visibilitas tinggi yang muncul secara organik.
Lantas apa solusinya bagi McDonald’s?
- Manfaatkan Meme (Strategi Berani Mengambil Risiko): Alih-alih mengabaikan reaksi negatif, McDonald’s sebaiknya memanfaatkan meme “gigitan kecil”. Video lanjutan yang menunjukkan CEO (atau karyawan) sengaja menggigit logo Big Arch dengan ukuran besar secara lucu dapat mengembalikan narasi, menunjukkan bahwa merek tersebut memiliki selera humor.
- Pengambilan Gambar Ulang “Otentik” di Lokasi Waralaba: Video aslinya difilmkan di lingkungan kantor perusahaan yang steril. Video baru harus difilmkan di dalam restoran McDonald’s yang ramai, menampilkan CEO yang berbagi burger dengan pelanggan atau pemilik waralaba sungguhan. Ini menggeser citra merek dari “korporat” menjadi “mudah dihubungkan”.
- Rebranding dari “Produk” menjadi “Makanan”: Penggunaan istilah “produk” oleh CEO dikritik karena terdengar dingin. Konten di masa mendatang harus menekankan rasa, kualitas, dan pengalaman kuliner, menggunakan bahasa yang lebih hangat dan menarik.
- Manfaatkan Konten Buatan Pengguna (UGC): Dorong penggemar untuk membagikan video “Big Arch Challenge” mereka sendiri, dengan fokus pada rasa. Menampilkan video-video ini di akun resmi dapat mengubah momen ejekan menjadi kampanye keterlibatan komunitas.
- Balaslah Persaingan dengan Troll: Dengan Burger King dan Wendy’s yang merilis video parodi mereka sendiri, McDonald’s dapat merespons dengan konten kompetitif yang ringan dan memperkuat citra Big Arch sebagai produk yang unggul.
Pelajaran Inti PR: Di era media sosial, keaslian mengalahkan penataan korporat yang dipoles. Tujuannya adalah untuk mengalihkan percakapan dari “CEO itu canggung” menjadi “burger itu layak dicoba”
Penulis: Aditya Wardhana
