Tips PR: Meningkatkan Kualitas Praktisi Public Relations

Apa yang Anda pikirkan pertama kali ketika mendengar kata “Public Relations (PR)”? Biasanya orang berasumsi PR merupakan kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi. Bahkan seringkali PR dihubungkan dengan siaran pers, konferensi pers atau justru menyebarkan berita. Asumsi tersebut tidak sepenuhnya salah namun juga kurang tepat.
Meskipun kebanyakan orang mengasosiasikan Public Relations dengan karakteristik tertentu, para profesional di bidang PR melakukan pekerjaan jauh lebih banyak dari sekadar menyebarkan informasi dan komunikasi semata. Mereka dituntut menjadi corong dari brand, korporasi, pemerintah, lembaga, atau institusi tertentu untuk memberitakan informasi dengan disertai data yang akurat dan tepercaya serta dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, praktisi PR selalu belajar untuk menerima informasi secara cepat, mempelajari, dan membuat narasi yang sesuai dengan tujuan pesan yang akan disebarkan.
Untuk meningkatkan kualitas dalam bidang public relations (PR), maka para praktisi kehumasan atau profesional PR dapat memanfaatkan tool, data, liputan media, teknologi, teknik bercerita, dan narasumber yang tepat dan kredibel untuk terus melakukan upgrading skill. SEQARA Communications sebagai integrated communications agency memberikan 7 (tujuh) hal yang bisa dijadikan acuan bagi praktisi PR agar kinerjanya bisa lebih moncer lagi.
1. Teknologi AI
AI adalah tren PR yang sedang berkembang dan dapat dimanfaatkan oleh hampir semua industri, termasuk PR. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data, mengorganisir daftar, dan menganalisis preferensi media, menjadikannya alat yang sangat berguna bagi profesional PR.
2. Liputan Media
Manfaatkan kanal promosi internal seperti website kantor Anda untuk mepromosikan berita, selain yang disebarkan ke media. Anda dapat membagikan berita melalui email, media sosial, materi pemasaran, atau di ruang blog situs web, seperti yang dilakukan oleh SEQARA Communications – yang sering membagikan aktivitas PR dari para kliennya dalam bentuk tulisan ke web.
3. Storytelling untuk Memperkenalkan Merek
Kebanyakan praktisi PR enggan untuk menceritakan pencapaian diri atau latar belakang, pengalaman, dan relevansi pekerjaannya ke publik. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari malu, tidak ada waktu buat menulis, atau tidak ingin dianggap pamer. Padahal dengan membangun storytelling, seorang praktisi PR justru membantu membangun hubungan baik dengan klien dan mendapatkan kepercayaan mereka.
4. Sudut Pandang Kreatif
Agar bisa menarik perhatian media, maka Anda harus menciptakan sudut pandang yang unik. Hindari kecerobohan dan mengirimkan siaran pers yang identik kepada banyak jurnalis melalui e-mail karena kebanyakan dari mereka akan mengabaikannya. Pastikan pesan Anda tepat dengan melakukan riset untuk mengetahui jenis berita yang diliput oleh media.
5. Periksa Fakta
Praktisi PR dan integrated communications agency seperti SEQARA Communications juga harus menjadi penjaga gerbang yang menyaring informasi dan memeriksa fakta. Kita perlu memastikan bahwa data yang kita berikan kepada publik adalah akurat, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Janjikan Lebih Sedikit dan Berikan Lebih Banyak
Pastikan untuk bersikap realistis tentang rencana kampanye PR Anda. Sebaiknya Anda tidak menjanjikan ke klien sesuatu yang tidak akan tercapai. Sebaliknya, lakukan semuanya berdasarkan fakta dan tetapkan target yang masuk akal karena peran PR sebenarnya adalah membangun kesadaran akan sesuatu dan terlibat dalam setiap aspek proses bisnis.
7. Terukur
Hasil kerja PR sebagian besar bisa terlihat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Anda perlu berfokus pada hasil (outcome), bukan semata keluaran (output). Yang penting bukan berapa banyak siaran pers yang telah kita hasilkan, akan tetapi bagaimana kita dapat memengaruhi persepsi orang dan menyelaraskannya dengan persepsi dari klien.
Penulis: Aditya Wardhana